Sabtu, 27 April 2013

Behavioral Therapy


Tokoh-tokoh Behavioral Therapy
a.    B.F. Skinner

BF Skinner (1904-1990), dibesarkan di lingkungan keluarga yang hangat dan stabil. Skinner menerima gelar PhD di bidang psikologi dari Harvard University pada tahun 1931 dan akhirnya kembali ke Harvard setelah mengajar di beberapa universitas. Skinner adalah seorang juru bicara terkemuka untuk behaviorisme dan dapat dianggap sebagai bapak dari pendekatan behavior. Ia juga seorang ahli eksperimen di laboratorium.
 Skinner tidak mempercayai menusia memiliki pilihan bebas. Menurutnya tindakan tidak dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan. Ia menekankan pandangannya pada sebab akibat antara tujuan, kondisi lingkungan dan perilaku yang dapat diamati. Pandangannya muncul sebagai bentuk protes terhadap psikoanalitik yang berfokus pada pikiran dan motif-motif yang tidak terlihat, sehingga ia merasa prihatin akan fokus yang terlalu kecil terhadap lingkungan yang dapat diamati. Skinner tertarik pada konsep penguatan dan menerapkannya dalam dirinya sendiri. Skinner percaya iptek dapat menjanjikan masa depan yang lebih baik. 



b.    Albert Bandura

Albert Bandura (lahir 1925), dia adalah anak bungsu dari enam anak di sebuah keluarga keturunan Eropa Timur. Selama SD dan SMA ia bersekolah di sekolah yang kekurangan guru dan sumber daya. Hal ini yang menjadi asset awal Bandura dalam mempelajari keterampilan memimpin diri, Ia Memperoleh gelar PhD dalam psikologi klinis dari University of Iowa pada tahun 1952, dan setahun kemudian ia bergabung dengan fakultas di Universitas Stanford.
Bandura dan rekan-rekannya yang merintis dalam bidang social modeling dan memperkenalkannya sebagai suatu proses yang kuat yang menjelaskan beragam bentuk pembelajaran. Teori yang dihasilkan ialah Social Cognitive Theory, yang menyatakan manusia dapat mengatur diri sendiri, dapat mempengaruhi tingkah laku dengan mengatur lingkungan, dapat menciptakan dukungan positif, dan dapat melihat konsekuensi bagi tingkah laku sendiri. Gagasan ini menyatakan bahwa manusia tidak hanya dibentuk oleh kekuatan lingkungan, tetapi juga oleh kekuatan batin yang memotifasi.

Pengertian Behavioral Therapy
Behavioral therapy adalah salah satu teknik yanag digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.

Tujuan Behavioral Therapy
Tujuan behavioral therapy adalah mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku simptomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami kesulitan atau hambatan perilaku, yang dapat membuat ketidakpuasan dalam jangka panjang, atau mengalami konflik dengan lingkungan sosial.

Ciri-ciri Behavioral Therapy
Ciri-ciri behavioral therapy, adalah sebagai berikut :
a.     Berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik;
b.     Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik;
c.      Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien;
d.     Penafsiran objektif atas tujuan terapeutik
Behavior therapy beranggapan bahwa kondisi klien merupakan akibat dari stimulus konselor, dengan begitu konselor dalam setiap mengadakan konseling harus mempunyai stimulus kepada klien, sehingga klien dengan mudah dan cepat merasakan stimulus yang diberikan.

Teknik-teknik Behavioral Therapy
Teknik-teknik yang dapat dilakukan dalam behavioral therapy adalah sebagai berikut :
a.     Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negative biasanya berupa kecemasan, dan menyertakan respon yang berlawanan dengan peilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang berangsur dan santai.
b.     Terapi Implosif
Terapi implosive dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang-ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan.
c.      Latihan Perilaku Asertif
Latihan perilaku asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.
d.     Pengkondisian Aversi
Teknik pengkondisian diri digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengaj cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya.
e.     Pembentukan Perilaku Model
Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, baik menggunakan model audio,model fisik atau lainnya yang dapat teramati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.
f.       Kontrak Perilaku
Kontrak perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dank lien) untuk mengubah tertentu pada klien. Dalam terapi ini konselor memberikan ganjaran positif dipentingkan daripada memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.

Kelemahan Dan Kelebihan Behavioral Therapy
Kelebihan yang terdapat dari behavioral therapy ialah memiliki berbagai macam teknik konseling yang teruji dan selalu diperbaharui; waktu dalam konseling relatif singkat; kolaborasi yang baik antara konselor dan konseli dalam penetapan tujuan dan pemilihan teknik.
Kelemahan yang terdapat dari behavioral therapy ialah mengabaikan faktor relasional penting dalam terapi; tidak memberikan wawasan; mengobati gejala bukan penyebab; melibatkan kontrol dan manipulasi oleh konselor.

Daftar Pustaka :
Corey G. (2009). Theory and practice of   counseling and psychotherapy (8th ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole. 
Latipun. (2001). Psikologi Konseling. Malang : UMM Press

Senin, 22 April 2013

Rational Emotive Therapy


Albert Ellis

Diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 September 1913 di Pittsburgh, Pennsylvania, yang kemudian dibesarkan di New York. Rational Emotive Therapy menurut Ellis sendiri adalah konsep bahwa berpikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya lebih menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang.

Pendekatan Teori Rational Emotive Therapy Albert Ellis
Pandangan pendekatan Rational Emotive Therapy tentang kepribadian Albert Ellis, dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaituAntecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.

Tujuan Pendekatan Rational Emotive Therapy
Tujuan utama dari terapi ini yaitu meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik. Terapi ini mendorong suatu reevaluasi filosofis dan ideologis berlandaskan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis.
Proses terapeutik utama Rational Emotive Therapy dilaksanakan dengan suatu maksud utama yaitu: membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasikan suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasikan keyakinan-keyakinan dogmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.
Tugas yang dilakukan oleh terapis Rational Emotive Therapy adalah sebagai berikut:
a.   mengajak klien untuk berpikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku;
b.   menantang klien untuk menguji gagasan-gagasanya;
c.   menunjukkkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya;
d.   menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien;
e.   menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan;
f.     menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasionalitas pikiran klien;
g.   menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris;
h.   mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara berpikir sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan yang irasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekarang maupun pada masa yang akan datang, yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang dapat merusak diri.

Teknik-Teknik Terapi Emotif Rasional
a.   Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b.   Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c.   Self Modelling
Teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
d.   Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.

Kelebihan Dan Kekurangan Rational Emotive Therapy
Kelebihan Rational Emotive Therapy adalah menawarkan dimensi kognitif dan menantang klien untuk meneliti rasionalitas dari keputusan yang telah diambil serta nilai yang klien anut; memberikan penekanan untuk mengaktifkan pemahaman yang di dapat oleh klien sehingga klien akan langsung mampu mempraktekkan perilaku baru mereka; menekankan pada praktek terapeutik yang komprehensif dan eklektik.
Sementara kekurangan Rational Emotive Therapy adalah tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalam proses terapeutik ada hal-hal yang tidak diperhatikan; kurang melakukan pembangunan hubungan antara klien dan terapis sehingga klien mudah diintimidasi oleh konfrontasi cepat terapis; dikarenakan pendekatan ini sangat didaktif, terapis perlu mengenal dirinya sendiri dengan baik dan hati-hati agar tidak hanya memaksakan filsafat hidupnya sendiri kepada para klien.

Daftar Pustaka
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Gunarsa, Singgih D. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia

Senin, 15 April 2013

Analisis Transaksional (AT)


Analisis transaksional adalah suatu pendekatan psikoteraputikyang sangat dapat diterapkan dalam praktikan pekerjaan sosial klinis. Tokoh analisis traksaksional adalah Eric Berne yang dikembangkan pada 1950-an yang merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis dan mengubah saling pengaruh diantara manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri).
Tujuan Berne ialah untuk mensistensiskan gagasan-gagasannya, dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat dipahami, sehingga klien dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengorganisasikan arah penanganannya sendiri.
Analisis transaksional dibagi kedalam kategori-kategori sebagai berikut :
1.     Keadaan ego (ego states)
Keadaan ego ialah sebagai “realitas ego yang benar-benar dialami oleh seseorang secara mental dan fisik” pada waktu tertentu. Jelaslah bahwa seseorang dapat mengalami baik keadaan ego pada saat ini maupun pemutaran ulang suatu pengalaman dini seseorang dari masa anak-anak.
Setiap keadaan ego orang tua, orang dewasa dan anak, dapat didefinisikan sebagai berikut :
·           Orang tua (parent), keadaan egi ini berisi elemen-elemen yang mengorganisasikan, memelihara dan melindungi serta penting. Keadaan ini juga terdiri atas nilai-nila, moral dan etika kita.
·           Orang dewasa (adult), keadaan ego ini mengumpulkan dan memproses data, mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan dan membuat perkiraan-perkiraan (prediksi), semua dalam rangka pengambilan keputusan. Orang dewasa lebih luwes (fleksibel) karena ia berinteraksi paling banyak dengan realitas di sini dan masa kini dan yang paling sedikit dipengaruhi oleh internalisasi-internalisasi yang kuno atau sudah lama terjadi (archaic internalizations).
·           Anak (child), keadan ego ini berisi suatu intiusi seseorang dan imajinasi. Keadaan ego anak dalam dua cara, anak dapat menyesuaika diri (the adapted) ialah seseorang yang memodifikasi perilaku atas pengaruh orang tua, baik yang patuh dan suka melawan terhadap keinginan-keinginan orang tua. Anak alamiah (the natural) ialah seseorang yang mengekspresikan suatu kreativitas secara spontan.
2.    Transaksi (transaction)
Berne membedakan tiga tipe transaksi, yaitu :
·           Timbal-balik atau komplementer (complementary)
·           Silang (crossed)
·           Tersembunyi (ulterior)
3.    Permainan dan drama segitiga (games and the drama triangle)
Permainan (games) ialah suatu urutan transaksi tersembunyi yang berlangsung melalui tahap-tahap yang didefinisikan dengan baik hingga suatu dampak yang dapat diramlkan yang pada umumnya.
4.    Naskah (scripts)
5.    Gerakan dan lako cerita (strokes and scriptwork)
6.    Posisi kehidupan (life positions)
Berne menganjurkan bahwa pada saat kita mencapai usia sekolah, kita sudah berasumsi memiliki dengan sungguh-sungguh keyakinan-keyakinan tentang harga diri dan orang lain. “Setiap pilihan akan keadaan ego,” ia tulis, “setiap  permainan, naskah kehidupan kita ini sendiri, semuanya didasarkan atas salah satu dari posisi-posisi kehidupan tersebut”. Keempat kemungkinan posisi-posisi yang dapat diasumsikan adalah sebagai berikut :
·           Aku OK-Anda OK. Posisi yang “sehat” ini biasanya dibentuk pada awal kehidupan atau yang diperjuangkan oleh seseorang dengan sungguh-sungguh sesudahnya untuk membentuknya. Ini mencerminkan otonomi, kreativitas dan spontanitas.
·           Aku OK-Anda Tidak OK. Ini adalah posisi yang paranoid. Seseorang membuat orang lain tidak OK agar dapat membebaskan dirinya dari perasaan-perasaan yang sangat tidak menyenangkan.
·           Aku tidak OK-Anda OK. Ini adalah posisi yang despresif. Pada umumnya, perasaan-perasaan yang sangat tidak menyenangkan dibelokkan kedalam, “terhadap diri”.
·           Aku tidak OK-Anda OK. Ini adalah posisi schizoid atay borderline. Posisi ini dipenuhi dengan kekecewaan dan keputusasaan serta kadang-kadang terlihat sebagai posisi bunuh diri.
Berne mencatat bahwa dalam kenyataan, seseorang kadang-kadang dapat melihat perubahan-perubahan melalui beberapa, bahkan keempat posisi kehidupan. Akan tetapi, sarannya yang kuat ialah bahwa kebanyakan manusia cenderung berfungsi dari satu posisi sepanjang kehidupan mereka.
7.    Perintah dan keputusan ulang naskah (script injunctions and redecision)

Teknik dan Prosedur Terapi
Teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam AT yaitu, sebagai berikut:
1.         Analisis Struktural.
Adalah suatu cara yang dapat menjadikan individu sadar tentang isi dan fungsi dari status egonya. Didalam analisis transaksional klien belajar bagaimana mengidentifikasikan status egonya. Para klien akan belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan ego-nya, ini dapat membantu klien untuk mengubah pola-pola yang dirasakan dapat menghambat dan membantu klien untuk menemukan perwakilan ego yang dianggap sebagai landasan tingkah lakunya, sehingga dapat melihat pilihan-pilihan.
2.        Metode-metode Didaktik 
Analisis transaksional berdasarkan pada aspek kognitif, maka dalam hal ini metode didaktik merupakan dasar bagi pendekatan terapi ini. Anggota kelompok pada terapi ini diharapkan mampu untuk kenal dengan analisis struktural dan memahami peran ego masing-masing.
3.        Analisis Transaksional
 Adalah penjabaran dari yang dilakukan orang-orang terhadap satu sama lain, sesuatu yang terjadi diantara orang-orang melibatkan suatu transaksi diantara perwakilan ego mereka, dimana saat pesan disampaikan diharapkan ada respon. Ada tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang, dan terselubung.
4.        Permainan Peran (Role Playing) 
Prosedur-prosedur AT dikombinasikan dengan teknik psikodrama dan permainan peran. Dalam terapi kelompok, situasi permainan peran dapat melibatkan para anggota lain. Seseorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi anggota lainnya, kemudian dia berbicara pada anggota tersebut. Bentuk permainan yang lain adalah permainan menonjolkan gaya-gaya yang khas dari ego orang tua yang konstan.
5.        Analisis Upacara, Hiburan, dan Permainan
AT meliputi pengenalan terhadap upacara (ritual), hiburan, dan permainan yang digunakan dalam menyusun waktunya. Penyusunan waktu adalah bahan penting bagi diskusi dan pemeriksaan karena merefleksikan keputusan tentang bagaimana menjalankan transaksi dengan orang lain dan memperoleh perhatian.
6.        Analisa Skenario
Adalah kekurangan otonomi berhubungan dengan keterikatan individu pada skenario atau rencana hidup yang ditetapkan pada usia dini sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya di dunia sebagaimana terlihat dari titik yang menguntungkan menurut posisi hidupnya. Skenario kehidupan, yang didasarkan pada serangkaian keputusan dan adaptasi sangat mirip dengan pementsan sandiwara.
7.        Kursi Kosong (Emphty Chair).
Prosedur kursi kosong dalam terapi ini, merupakan cara yang sangat baik dalam analisis struktural. Cara ini mengasumsikan bahwa klien mempunyai kesulitan dalam mengatasi dirinya dan pimpinannya. Klien disuruh membayangkan bahwa orang yang duduk didepannya adalah orang lain, dan kemudian diajak untuk berdialog. Prosedur ini memberikan kebebasan pada klien untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan sikapnya sebagaimana dirinya berperan pada status ego tertentu. Mc Neel menggambarkan bahwa teknik dua kursi yang kosong ini merupakan alat yang sangat efektif dalam membantu klien menyelesaikan konfliknya dengan orang tua atau orang lain yang ada disekitarnya pada waktu klien dibesarkan. Tujuan dari teknik ini adalah untuk menyempurnakan unfinished bussines pada masa yang silam.
8.        Familiy Modelling
Dalam teknik ini, klien diminta untuk membayangkan yang melibatkan banyak individu, mungkin yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu atau dirinya. Klien menetapkan situasi dan menggunakan anggota lain dari kelompoknya sebagai anggota keluarga. Kemudian dari analisis didiskusikan dan dievaluasi dengan kesadaran yang penuh.
9.        Analysis of Ritual and Past time.
Didalam analisis transaksional akan terlibat masalah identifikasi mengenai tata cara dan pengisi waktu yang tampaknya dapat digunakan dalam menstruktur waktu. Struktur waktu ini sangat penting didiskusikan dan diperiksa, karena hal ini merefleksikan bagaimana individu memutuskan naskahnya dalam kaitannya bagaimana individu tersebut melakukan transaksi dan bagaimana untuk mendapatkan belaian yang tidak menguntungkan dan akibatnya akan mengalami keakraban dengan orang lain.
10.      Analysis of Game and Rackets.
Analisis permainan merupakan aspek yang penting dalam mengetahui transaksi yang sebenarnya dengan orang lain. Didalam hal ini perlu di observasi dan diketahui bagaimana permainan dimainkan dan belaian apa yang diterima, bagaimana keadaan permainan itu apakah ada jarak dan apa diringi dengan keakraban.

Penyembuhan dalam Analisis Transaksional
Bersamaan dengan suatu keyakinan dalam ke-OK-an dasar klien, para terapis AT yakin akan konsep penyembuhan bukan kemajuan atau kesadaran, tetapi bukan wawasan atau perubahan, tetapi penyembuhan. Berne menguraikannya sebagai berikut :
1.         Pengendalian sosial (social control)
2.        Penyembuhan gejala (symptom relief)
3.        Penyembuhan transferensi (transference cure)
Penyembuhan pengendalian sosial dilakukan dengan cara memperoleh penguasaan atas perilaku-perilaku disfungsional. Dengan penyembuhan gejala klien mengalami kelegaan yang ditandai dari distress kecemasan subjektif, depresi atau kebingungan. Dalam penyembuhan transferensi, klien dapat tetap berada diluar naskah asal terapis ada/hadir, baik dalam kenyataan atau diluar kepada klien. Penyembuhan naskah terjadi ketika orang dewasa klien berada dalam menghadapi internal, dan interpersonal, stress, yang secara efektif dibebaskan dari perasaan-perasaan dan perilaku-perilaku naskah.

Kelebihan dan Kelemahan Analisis Transaksional
Kelebihan analisis transaksional,  yaitu:
1.   Terapi ini memberikan suatu perspektif yang unik tentang interaksi sosial dan fenomena sosial lain.
2.  Sangat berguna dan para terapis dapat dengan mudah menggunakannya.
3.  Menantang klien untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.
4.  Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena klien bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain.
5.  Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri.


Kelemahan analisis transaksional,  yaitu:
1.   Banyak terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional yang cukup membingungkan.
2.  Penekanan analisis transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.
3.  Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya.
4.  Klien bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

Daftar Pustaka
Corey, Gerald. (1996). Theory and practice of counseling and psychotherapy. USA: Brooks Cole.
Robert, A.R., & Greene, G.B. (2008). Buku pintar pekerja sosial. Jakarta : Gunung Mulia